Panduan

Seni Menerjemahkan Karya Sastra dengan Hati dan Jiwa

Terjemahan sastra adalah seni mengalihbahasakan karya sastra dengan mempertahankan keindahan bahasa dan maknanya. Kegiatan ini memerlukan kepekaan linguistik dan pemahaman budaya yang mendalam.

Diterbitkan pada Terakhir diperbarui pada

Pengantar Visual

Orang memotret karya seni dengan ponsel pintar
Teks
papan kutipan hitam putih
pria berjaket hitam duduk di lantai kayu cokelat
Photo by Doyle Shin on Unsplash
seorang pria duduk di depan proyeksi di dinding
Photo by Derek Lee on Unsplash
sebuah balok kayu bertuliskan terjemahan
Photo by Ling App on Unsplash
dinding putih dengan tulisan silakan sentuh
Photo by Suzi Kim on Unsplash
Teks
Tanda di dinding yang bertuliskan Anda dapat menikmati kedamaian di lantai tiga
Photo by Suzi Kim on Unsplash
Teks
Teks
Photo by Stefan on Unsplash
dinding beton dengan kutipan tertulis dalam bahasa Mandarin
Photo by Leon P on Unsplash
close-up buku terbuka dengan teks
Close-up teks di halaman buku
papan petunjuk di samping gedung
close up buku terbuka dengan tulisan
dinding dengan tanda di atasnya
Photo by Carlos 312 on Unsplash
Teks
Teks
Teks
Photo by EJ Li on Unsplash

Antisipasi

Saya selalu terpukau oleh keindahan puisi-puisi sastra yang penuh makna. Sambil menikmati kopi di teras rumah, saya memutuskan untuk mencoba menerjemahkan puisi favorit saya ke dalam bahasa Inggris. Saya membuka buku catatan tua pemberian almarhumah nenek, sambil membayangkan bagaimana caranya menangkap semantik puisi favorit saya dalam bahasa yang berbeda. Saya merenungkan kemampuan saya dalam menyampaikan kekuatan kata-kata yang mendalam itu dalam bahasa Inggris.

Pendalaman

Suasana tenang di pagi buta menemani saat aku mulai bekerja. Jari-jariku menari di atas keyboard, mencoba menemukan padanan kata yang tepat untuk 'meremang bulu kuduk' yang tidak sekadar berarti 'goosebumps'. Saya berulang kali membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan thesaurus bahasa Inggris, sesekali berhenti sejenak ketika menemui kesulitan. Saya teringat nasihat bahwa terjemahan yang baik itu seperti mencium bau mawar melalui kaca jendela. Perlahan tapi pasti, baris demi baris mulai terbentuk, dengan ritme yang saya sesuaikan sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

Refleksi

Ketika akhirnya selesai, saya membacakan terjemahan saya dengan suara lantang. Rasanya seperti baru menyelesaikan perjalanan panjang menyusuri lorong waktu dan budaya. Saya tersenyum mengingat perjuangan mencari padanan yang tepat. Kini, setiap melihat buku terjemahan, mata saya selalu berbinar penuh hormat. Saya menyadari bahwa menjadi penerjemah sastra itu seperti menjadi dalang yang menghidupkan wayang-wayang kata dari satu panggung budaya ke panggung lainnya.

Menerjemahkan karya sastra membantu memperkenalkan kekayaan budaya suatu bangsa kepada dunia, sekaligus memperkaya khazanah sastra nasional dengan perspektif baru.
Proses menerjemahkan sastra mengasah kepekaan kita terhadap keindahan bahasa, pilihan kata, dan gaya penulisan yang beragam.
Dengan menerjemahkan karya-karya klasik, kita turut melestarikan warisan sastra dunia untuk dinikmati generasi mendatang.
Setiap terjemahan adalah kesempatan untuk menemukan padanan kata yang tepat, sehingga memperkaya perbendaharaan bahasa.
Mencari padanan yang tepat untuk metafora dan idiom menantang kita untuk berpikir kreatif dalam berbahasa.
Menerjemahkan memaksa kita untuk benar-benar memahami teks secara mendalam, tidak hanya sekadar membacanya.
Dengan memahami karya sastra dari budaya lain, kita belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda.
  1. Pilih karya sastra yang benar-benar kamu sukai dan pahami maknanya
  2. Baca berulang kali untuk menangkap nuansa dan gayanya
  3. Identifikasi kata kunci dan konsep yang sulit diterjemahkan
  4. Buat draf kasar terjemahan dengan fokus pada makna
  5. Sempurnakan dengan memperhatikan irama dan keindahan bahasa
  6. Mintalah masukan dari pembaca lain
  7. Lakukan revisi berdasarkan umpan balik yang diterima
  • Penguasaan bahasa sumber dan target
  • Pemahaman budaya kedua bahasa
  • Referensi bahasa yang memadai
  • Waktu yang cukup untuk riset dan revisi
  • Kemampuan menulis yang baik
  • Kepekaan terhadap nuansa bahasa dan gaya penulisan
  • Kesabaran dan ketelitian dalam memilih kata yang tepat

Selalu hormati hak cipta karya asli. Pastikan untuk mendapatkan izin tertulis sebelum mempublikasikan terjemahan karya orang lain. Gunakan bahasa yang santun dan sesuai dengan norma kesopanan yang berlaku.

Terjemahan sastra menekankan penangkapan jiwa, gaya, dan keindahan bahasa karya aslinya, tidak hanya makna harfiah.
Waktu yang dibutuhkan sangat bervariasi tergantung kompleksitas teks dan pengalaman penerjemah. Sebagai gambaran, cerpen 10 halaman bisa memakan waktu 3-7 hari kerja. Sementara puisi yang relatif pendek pun bisa memakan waktu berhari-hari karena membutuhkan ketepatan dalam memilih diksi yang sesuai.
Tidak harus, tapi sangat membantu. Yang lebih penting adalah penguasaan bahasa yang mendalam, kepekaan terhadap nuansa kata, dan kemampuan menulis yang baik. Banyak penerjemah handal yang belajar secara otodidak.
Perhatikan tidak hanya makna denotatif, tapi juga konotasi, irama, dan rasa bahasanya. Kadang perlu mencari padanan budaya yang sesuai jika terjemahan harfiah tidak mencerminkan makna sebenarnya.
Menemukan keseimbangan antara kesetiaan pada teks asli dan keindahan bahasa target. Terkadang perlu membuat keputusan sulit antara akurasi dan kefasihan.
Terjemahan tetaplah karya turunan yang harus menghormati karya aslinya. Meski membutuhkan kreativitas tinggi, hak moral tetap milik penulis asli. Penerjemah berhak atas hasil terjemahannya selama menghormati hak cipta.
Bacalah banyak karya sastra dalam kedua bahasa, praktikkan secara teratur, ikuti komunitas penerjemah, dan selalu terbuka terhadap masukan. Bergabung dengan kelompok baca atau forum diskusi sastra juga sangat membantu.
Sangat penting. Memahami latar belakang budaya membantu menangkap nuansa yang mungkin tidak terlihat dari teks saja. Pengetahuan budaya juga membantu menemukan padanan yang tepat dalam bahasa target.
Beberapa pilihan: gunakan kata aslinya dengan penjelasan singkat, cari padanan terdekat dalam budaya target, atau buat penjelasan dalam catatan kaki. Yang penting, jangan sampai maknanya hilang.
Setiap bahasa punya keunikan masing-masing. Tujuan terjemahan yang baik bukan untuk mengungguli karya asli, tapi menghadirkannya dalam bahasa lain dengan setia dan indah. Terkadang terjemahan justru membuka dimensi baru dalam memahami karya asli.
Ini tantangan tersendiri. Kadang perlu mengorbankan rima asli untuk mempertahankan makna, atau mencari pola rima baru yang sesuai dengan bahasa target. Yang terpenting adalah mempertahankan musikalisasi dan irama yang sesuai dengan suasana puisi.
Selain penguasaan bahasa, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, kepekaan terhadap nuansa bahasa, kemampuan menulis yang baik, dan yang tak kalah penting adalah rasa ingin tahu yang besar untuk terus belajar tentang budaya di balik bahasa yang diterjemahkan.

Mulailah petualangan terjemahan sastra!