Panduan

Panduan Lengkap Belanja Berkelanjutan ala Masyarakat Indonesia

Belanja Berkelanjutan adalah gaya hidup yang meminimalkan dampak buruk bagi bumi dengan memilih produk ramah lingkungan, mendukung petani lokal, dan mengurangi sampah. Di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, langkah kecil kita bisa membuat perubahan besar.

Diterbitkan pada Terakhir diperbarui pada

Pengantar Visual

seorang wanita membawa dua tas belanja merah dan hijau
Pohon Natal besar di pusat perbelanjaan yang dipenuhi orang
Wanita memegang tas belanja di pusat perbelanjaan.
dua kantong kertas cokelat di setang sepeda
Tiga wanita berjalan membawa tas belanja di pusat perbelanjaan.
close up mesin ketik dengan kertas bertuliskan ramah lingkungan
wanita berjalan di jalan sambil membawa tas bergambar tanda perdamaian
foto close up wanita duduk di dalam kereta dorong
Photo by Pars Sahin on Unsplash
kantong kertas cokelat di atas meja putih
Photo by Erik Mclean on Unsplash
Dua wanita sedang melihat etalase toko.
close up daun hijau di atas meja
Photo by Sean Foster on Unsplash
Pohon hijau di dekat badan air di siang hari
daun hijau dalam foto close up
Close up daun hijau yang besar
Photo by Dwi Aryasa on Unsplash
Close up daun hijau yang besar
Photo by Yogi Riana on Unsplash
daun hijau dalam foto close up
Tembok bata dengan rambu berhenti
kain hitam di atas kain putih
Close up daun hijau yang besar
Dedaunan hijau menyaring sinar matahari dengan indah.

Antisipasi

Dulu, saya tidak pernah memikirkan dampak belanja saya terhadap lingkungan. Sampai suatu hari, saat berlibur ke suatu pulau, saya melihat sendiri betapa parahnya sampah plastik mencemari laut yang indah. "Harus ada yang berubah," pikir saya. Tapi bingung harus mulai dari mana. Apalagi di kota besar yang serba praktis dan serba plastik. Saya mulai mencari informasi tentang zero waste lifestyle dan terkejut mengetahui bahwa Indonesia termasuk penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Tekad saya bulat, meski sempat ragu apakah bisa konsisten.

Pendalaman

Pagi itu, saya memutuskan untuk berbelanja ke pasar tradisional. Dengan membawa tas kain dan wadah makanan bekas selai kacang, rasanya seperti petualangan baru. Aroma rempah-rempah segar langsung menyambut di pintu masuk. Saya berhenti di lapak Bu Siti yang menjual beras organik dari daerah pertanian. "Ini berasnya langsung dari petani, non-pestisida," katanya sambil tersenyum. Saya mengisi wadah yang saya bawa sambil mendengar ceritanya tentang pertanian organik. Di pojok lain, saya menemukan warung sayur yang menjual sayuran langsung dari petani lokal. Saya memilih kangkung, bayam, dan cabai yang masih segar, membungkusnya dengan daun pisang yang dibawa dari rumah. Rasanya seperti kembali ke masa kecil di kampung dulu.

Refleksi

Setelah beberapa waktu menjalani gaya hidup ini, saya menyadari bahwa belanja berkelanjutan bukan cuma soal mengurangi sampah. Saya jadi lebih menghargai makanan yang masuk ke piring, mengetahui asal-usulnya, dan mengenal langsung para produsennya. Yang tak terduga, pengeluaran bulanan saya justru berkurang cukup signifikan karena tidak lagi membeli barang yang tidak perlu. Tetangga pun mulai bertanya dan tertarik mengikuti jejak saya. Kini, setiap akhir pekan kami rutin berbelanja bersama ke pasar tradisional. Rasanya seperti menemukan komunitas baru yang punya visi sama. Satu hal yang saya pelajari: perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada kesempurnaan yang tidak berkelanjutan.

Dengan mengurangi sampah plastik, kita ikut menyelamatkan biota laut Indonesia yang merupakan paru-paru dunia. Setiap tahun, ribuan penyu dan hewan laut mati karena menelan sampah plastik.
Dengan membeli langsung dari petani, kita membantu perekonomian mereka sekaligus mendapatkan bahan pangan yang lebih segar dan bergizi.
Meski awalnya terlihat mahal, produk ramah lingkungan biasanya lebih awet dan tahan lama, sehingga lebih hemat dalam jangka panjang.
Produk alami bebas dari bahan kimia berbahaya yang bisa mengganggu kesehatan, terutama untuk anak-anak.
Dengan hidup berkelanjutan, kita memastikan anak cucu kita tetap bisa menikmati keindahan alam Indonesia.
Produk lokal tidak perlu menempuh perjalanan jauh, sehingga mengurangi emisi karbon dari transportasi.
Belanja ke pasar tradisional menciptakan interaksi sosial yang lebih erat antarwarga.
  1. Buat daftar belanja berdasarkan menu mingguan untuk menghindari pembelian berlebihan
  2. Kunjungi pasar tradisional atau toko kelontong terdekat yang menjual produk curah
  3. Bawa peralatan makan sendiri saat jajan untuk mengurangi sampah sekali pakai
  4. Pilih produk dengan kemasan kertas atau daun pisang daripada plastik
  5. Bergabung dengan komunitas zero waste di daerahmu untuk bertukar tips dan informasi
  6. Mulai menanam bumbu dapur sendiri di rumah
  7. Pertimbangkan untuk membuat kompos dari sisa makanan organik
  • Beberapa tas belanja kain yang kuat dan mudah dilipat
  • Wadah makanan dan botol minum stainless steel
  • Kantong kain kecil untuk sayur dan buah
  • Daftar belanja untuk menghindari pembelian impulsif
  • Pengetahuan tentang lokasi pasar tradisional terdekat
  • Aplikasi pemetaan untuk menemukan toko ramah lingkungan
  • Kantong jaring untuk belanjaan basah

Pastikan mencuci bersih semua produk segar sebelum dikonsumsi. Periksa tanggal kadaluarsa produk curah. Waspadai alergi terhadap bahan alami tertentu. Pastikan produk yang dibeli memiliki sertifikasi halal MUI jika diperlukan.

Tidak selalu! Meski beberapa produk ramah lingkungan harganya lebih tinggi, dalam jangka panjang justru lebih hemat karena lebih awet. Belanja langsung ke petani juga biasanya lebih murah dibanding supermarket.
Mulailah dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri dan botol minum. Manfaatkan wadah bekas untuk menyimpan bahan makanan. Beli kebutuhan pokok dalam jumlah besar untuk menghemat kemasan.
Cari produk dengan kemasan minimal, bahan alami, dan sertifikasi ramah lingkungan. Di Indonesia, cari logo 'Ekolabel' atau 'Ramah Lingkungan' dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Di kota-kota besar sudah banyak toko tanpa kemasan. Anda bisa mencarinya di peta digital dengan kata kunci 'toko tanpa kemasan' diikuti nama kota Anda.
Ajak mereka menonton film dokumenter tentang dampak sampah plastik, lalu ajak belanja ke pasar tradisional. Anak-anak biasanya senang memilih sayuran dan buah langsung dari petani.
Cari informasi tentang bank sampah terdekat atau pusat daur ulang. Beberapa merek kosmetik dan produk perawatan juga menerima kemasan bekas untuk didaur ulang.
Telusuri mereknya, baca label dengan cermat, dan cari ulasan dari konsumen lain. Waspadai praktik greenwashing yang hanya mengklaim ramah lingkungan tanpa bukti nyata.
Mengubah kebiasaan lama dan menemukan alternatif yang terjangkau. Tapi dengan komunitas yang semakin besar, sekarang semakin mudah menemukan solusi kreatif.
Buat perencanaan menu mingguan, simpan bahan makanan dengan benar, dan kreatif mengolah sisa makanan menjadi hidangan baru. Bisa juga berbagi kelebihan makanan melalui aplikasi seperti Garda Pangan.
Pertimbangkan untuk menyumbang ke panti asuhan, menjualnya di aplikasi jual beli bekas, atau mengubahnya menjadi lap, tas belanja, atau kerajinan tangan.
Pilih toko online yang menggunakan kemasan ramah lingkungan, gabungkan pesanan untuk mengurangi pengiriman, dan pilih opsi pengiriman yang lebih lambat tapi lebih hemat karbon.
Manfaatkan sumber daya lokal yang ada. Beli langsung dari petani setempat, gunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus alami, dan ikuti program Bank Sampah yang sudah banyak beroperasi di berbagai daerah.

Mari mulai perjalanan belanja berkelanjutan sekarang juga.